Kamis, 13 Agustus 2009

Sampah Kota, Masalah dan Peluang


Sampah Kota, Masalah dan Peluang

by; Timwork GIH


Permasalahan sampah kota tidak hanya teknis, tetapi juga social, ekonomi dan budaya. Masalah utama sampah kota umumnya terjadi di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) terutama di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung dan Makassar serta hamper menjadi masalah di beberapa Kab/Kota lainnya di Indonesia. Masalah tersebut diantaranya keterbatasan lahan TPA, produksi sampah yang terus meningkat, teknologi proses yang tidak efisien dan tidak ramah lingkungan, serta belum dapat dipasarkannya produk hasil sampingan sampah kota. Padahal, produk hasil sampingan sampah sebenarnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan pemerintah, misalnya pupuk organic, biogas, dan tenaga listrik.

Pupuk organic bisa menggantikan pupuk kimia (pupuk anorganik) yang harganya tinggi serta langka dan selalu meningkat seiring dengan meningkatnya harga BBM. Demikian pula biogas atau tenaga listrik sampah adalah bahan energi alternative (biofuel) yang dapat diperbaharui (renewable) sebagai pengganti bahan baker BBM yang semakin langka dan mahal. Oleh karena itu, para pengambil kebijakan pengelola sampah kota dituntut untuk menemukan pengelolaan lingkungan yang berbasis system produksi. Artinya, sampah dilihat sebagai bahan baku untuk diproses menjadi produk komersial yang dapat dijual serta bersih lingkungan.

Permasalahan yang muncul di TPA, akan merambat kea rah hulu yang mengakibatkan terhenti atau terhambatnya pengangkutan sampah dari sumber sampah ke TPA. Dampaknya, sampah akan menggunung di kota disertai akumulasi polusi yang ditimbulkannya.


Untuk mengatasi masalah sampah, dibutuhkan system pengelolaan yang baik. Pengelolaan sampah kota bertujuan agar tercipta kebersihan lingkungan. Dengan armada angkutan sampah yang besar, jumlah personil yang memadai, keteraturan jadwal, serta ketepatan lokasi obyek sampah maka masalah kebersihan lingkungan di sumber sampah dapat diatasi dengan baik. Beberapa alternative cara mengatasi masalah sampah kota dengan menerapkan teknologi terapan, baik yang sudah dikenal atau belum dikenal di Indonesia. Misalnya, penggunaan teknologi terapan di TPS (Tempat Penampungan Sementara) dan kombinasi teknologi di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sehingga dihasilkan produk yang habis terjual atau termanfaatkan kembali. Setidaknya masalah sampah tersebut juga merupakan sebuah peluang usaha, setidaknya yang paling sederhana adalah mengolahnya menjadi pupuk organik.

Beberapa tahun belakang ini, bahan pangan, terutama sayuran yang dibudidayakan secara organik mulai digandrungi masyarakat. Mereka mulai menyadari kalau bahan makanan yang dibudidayakan secara organic itu lebih sehat danlebih aman. Dikatakan lebih aman karena pada bahan makanan tersebut tidak tertinggal sisa pestisida yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh manusia.


Bertani secara organic berarti semua pupuk dan pestisida yang digunakan terbuat dari bahan-bahan organic, seperti kompos dan pestisida nabati. Kompos menjadi pupuk utama sehingga untuk mengembangkan pertanian organic dibutuhkan dalam jumlah banyak. Nah bahan baku utama pembuatan kompos ini adalah sampah organik yaitu sampah perumahan, sampah pasar, serbuk gergaji, kotoran hewan, abu hasil pembakaran sekam padi, dan masih banyak lagi yang semuanya terbuang atau terabaikan selama ini, yang lucunya malah menjadi masalah selama ini. Kita kelola dengan cerdas sampah ini, sehingga bisa berhasil guna dan bermanfaat serta mengurangi pencemaran lingkungan. Karena pencemaran lingkungan berhubungan erat dengan sampah. Mari kita mengambil hikmah dalam masalah sampah ini dengan menjadikannya sebagai peluang usaha serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

(rul_12vii09.pupukorganikindonesia_lingkungan)

Tidak ada komentar:

Artikel Pupuk Organik Indonesia Headline Animator

Recent Coment


Artikel Bermanfaat Dari OrganicJournalOnline Headline Animator

Videos related to 'Peluang Usaha Kompos Dengan Rotary KILN Manual Part 02'